• Home
  • Makna Lagu
  • ‘Unholy’ oleh Sam Smith & Kim Petras: Interpretasi, Simbolisme, dan Kontroversi

‘Unholy’ oleh Sam Smith & Kim Petras: Interpretasi, Simbolisme, dan Kontroversi

0Shares
Unholy - Sam Smith & Kim Petras

Ketika Sam Smith dan Kim Petras merilis lagu “Unholy” pada tahun 2022, mereka tidak hanya menciptakan hit global—mereka juga melemparkan batu ke tengah kolam budaya populer. Dengan lirik yang provokatif, aransemen yang gelap, dan visual video musik yang teatrikal, lagu ini dengan cepat mengundang decak kagum sekaligus kritik pedas. Tetapi di balik beat-nya yang catchy dan suara falsetto yang tajam, “Unholy” menyimpan pesan simbolik yang mengguncang batas-batas konvensi.

Apa sebenarnya yang ingin disampaikan lagu ini? Mengapa begitu banyak yang merasa terganggu? Dan bagaimana lagu ini menjadi tonggak sejarah dalam representasi komunitas LGBTQ+ di industri musik arus utama?

Dosa, Kebebasan, dan Simbolisme dalam “Unholy”

Secara harfiah, “Unholy” berarti “tidak suci” atau “tidak kudus.” Lagu ini menceritakan tentang seorang pria yang berselingkuh diam-diam, pergi ke “Body Shop”—sebuah tempat simbolis yang dipenuhi dengan dosa dan sensualitas. Tetapi di tangan Sam Smith dan Kim Petras, kisah ini berkembang lebih dari sekadar pengkhianatan cinta. Lagu ini menjadi metafora untuk pembebasan diri dari belenggu moralitas yang dibuat oleh masyarakat konservatif.

Dalam video musiknya, Body Shop digambarkan seperti klub rahasia penuh keanehan dan ekspresi diri bebas, hampir menyerupai dunia bawah tanah yang aneh, glamor, dan teatrikal. Tempat ini seolah menjadi surga bagi mereka yang dianggap “tidak suci” oleh masyarakat normatif—para queer, drag queen, burlesque dancers, hingga individu yang menolak definisi gender tradisional. Body Shop menjadi lambang resistensi terhadap dunia yang menuntut keseragaman.

Sam Smith, yang secara terbuka mengidentifikasi sebagai non-biner, dan Kim Petras, penyanyi trans perempuan pertama yang memenangkan Grammy dalam kategori pop duo, bukan hanya menyanyikan lagu. Mereka menjadi simbol perlawanan hidup terhadap batas-batas identitas yang dikotakkan.

Kontroversi: Antara Keberanian dan Tuduhan ‘Menghujat’

Tidak bisa dipungkiri, lagu ini juga memicu kontroversi besar, terutama di kalangan kelompok konservatif dan religius. Penampilan mereka di panggung Grammy 2023, di mana Sam Smith mengenakan kostum iblis lengkap dengan tongkat trisula, dituding sebagai pertunjukan ‘satanik’ oleh banyak media sayap kanan di Amerika Serikat. Ada pula yang menuduh lagu ini sebagai bentuk penghinaan terhadap nilai-nilai kekeluargaan dan keagamaan.

Namun, jika kita cermati lebih dalam, “Unholy” bukanlah tentang memuja iblis, melainkan tentang pemberontakan terhadap kemunafikan sosial. Lagu ini mengungkap realita pahit: banyak orang yang tampak religius atau bermoral tinggi di luar, ternyata menyimpan rahasia kelam yang bertentangan dengan nilai yang mereka agung-agungkan.

Dengan kata lain, “Unholy” justru mengkritik moral palsu dan standar ganda yang sering ditemui dalam kehidupan sosial. Ia menantang para pendengar untuk berpikir ulang: siapa sebenarnya yang berdosa? Mereka yang menjalani hidup otentik tapi berbeda, atau mereka yang menyembunyikan dosa di balik topeng kesucian?

Lebih dari Sekadar Lagu Pop: Perubahan Budaya Lewat Musik

Keberhasilan “Unholy” tidak hanya diukur dari prestasi chart—lagu ini menempati posisi #1 di Billboard Hot 100—tetapi juga dari dampak budayanya. Lagu ini menjadi tonggak bersejarah karena mempertemukan dua artis queer dalam karya musik arus utama yang begitu vokal dalam mengekspresikan identitas mereka.

Ini penting. Karena untuk waktu yang lama, musisi LGBTQ+ seringkali disuruh berdiam, menyembunyikan diri, atau tampil “netral” demi diterima. Tapi Sam Smith dan Kim Petras menolak narasi itu. Mereka tidak hanya ‘terlihat’—mereka berdiri di tengah panggung dunia, dan menyanyikan lagu tentang perbedaan, dengan bangga.

“Unholy” Sebagai Karya yang Membebaskan dan Mengganggu Sekaligus

“Unholy” bukan hanya tentang musik. Ia adalah pengalaman artistik yang menggugah pikiran, memancing emosi, dan mendorong diskusi. Lagu ini membelah opini publik—antara pujian karena keberaniannya dan kritik karena kontroversinya. Namun satu hal pasti: lagu ini tidak membiarkan siapa pun tetap netral.

Dalam dunia di mana perbedaan masih sering disalahpahami, “Unholy” hadir sebagai karya yang berani mengatakan bahwa menjadi berbeda bukanlah dosa. Justru, mungkin dosa sebenarnya adalah menolak melihat keindahan dalam keberagaman.

BACA JUGA : 10 Lagu J-Pop Tentang Harapan dan Keberanian dalam Kesendirian

0Shares